Laman

Kamis, 05 Agustus 2010

7. Komposisi itu Menyihirku

“Mlm Za…dah bb’?” tanyaku via sms malam itu sepulang dari kios. Belum malam benar, baru jam 21.13.
Aku baru ingat kalau besok tgl 30 Des, hari-hari terakhir bulan ini. Dua hari lagi tahun baru. Biasanya malam tahun baru istimewa, banyak anak2 muda memenuhi jalan. memenuhi tempat-tempat hiburan yang menggelar berbagai hiburan, untuk merayakan datangnya tahun baru.
Di ruas-ruas jalan memang sudah banyak penjaja terompet menawarkan dagangannya. Terompet dari berbagai ukuran. Dari yang besar sampai yg kecil, dari yang sederhana sampai yang cukup rumit pembuatannya, tentunya semua itu akan berpengaruh pada harga terompet. Namun bagi penggemar terompet, masalah harga bukan hal penting, yang penting bisa meniup terompet di jalanan saat malam tahun baru. Berkumpul di jalan-jalan protocol atau bahkan konvoi keliling kota dengan meniup terompet mendatangkan kepuasan tersendiri.
“Mlm kak….blom bb’, da pa?” Faza membalas smsku singkat.
Semoga kali ini dia mau kuajak jalan. Lusa kan malam istimewa bagi anak muda, tentunya Faza juga mau keluar melihat-lihat situasi luar. Menikmati ramainya jalan raya. Mengunjungi tempat-tempat hiburan yang dibuka khusus buat merayakan datangnya tahu baru. belum jelas sekali sih, tempat hiburan buat anak muda yang dibuka di kota Faza, tapi yang jelas ada tempat hiburan yang selalu menampilkan pentas musik, kata teman-teman yang sudah pernah melihat cukup bagus.
Besar harapanku bisa mengajaknya jalan bersama setelah aku diberi kesmpatan buat ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Mengenal keluarga yang ceria. Ayah, ibu dua adik Faza serta seorang paman, adik bungsu ibu Faza. Walau waktu itu tidak bisa mengenal semuanya secara utuh, tapi paling tidak aku bisa melihat orang-orang yang disayangi Faza, melihat keakraban mereka.
“Lusa malam tahun baru Za…!”
“Trus….”
“Mau jalan2 ga?”
“Kemana?”
“Nonton musik….”
“Di…?”
“Di kotamu, mana yang paling bagus, hiburannya?”
“Mana ya? banyak sih Kak. Mau nnton pertunjukan musik, balap motor semalam suntuk, pesta kembang api?”
“Mau gak…?”
“Biar nanti Faza bilang Mama dlu ya…!”
Bilang mama? Jadi untuk pergi keluar dia tetap minta ijin ibunya? Kadang aku berpikir bahwa dia bisa keluar kapanpun dan kemanapun tanpa ijin pada ibunya. Tapi ternyata dia masih gadis yang baik, yang keluar rumahpun dia masih meminta ijin pada ibu. Makin simpati aku padanya. Banyak hal yang belum kuketahui tentang Faza. Dia masih misterius. Dengan sikap dan tingkah lakunya. Disatu sisi Faza bilang ya, tapi disisi lain dia bilang tidak. Apa yang kau inginkan gadisku? Hai …gadisku? Kan belum pernah jadian dan dia belum pernah mengatakan suka padaku? Akupun belum pernah menyatakan sesuatu, selain memberinya perhatian yang lebih, itu saja. Walau kalau ditanya apakah aku mencintainya? Maka jawabanku tegas, aku sangat mencintainya. Hanya jujur aku belum punya kesempatan yang tepat buat mengatakannya, akupun belum punya keberanian untuk itu. Aku masih merasa gamang, takut akan mendengar penolakan. Walau itu adalah sebuah resiko. Meminta tidak selalu mendapat apa yang diminta, bisa jadi yang akan diterima adalah penolakan. Dan itu hal yang wajar. Tapi aku belum siap buat ditolak. Lalu kapan?
“Ok…kutunggu kbrmu ya!”
“Ok…!” singkat padat jawabannya.
Selalu begitu jawaban-jawaban yang datang darinya. Jarang ada basa-basi. Tak ada sms lagi, sampai malam tak ada berita darinya. Aku menanti dengan harap-harap cemas. Banyak yang kupikirkan tentang pertemuan yang akan datang. Sampai jam berapa dia diijinkan keluar? Jam 9 malam harus pulang, atau jam 10 karena ini malam istimewa, atau bahkan boleh tengah malam setelah pergantian tahun? Semua itu tak terlalu penting buatku, aku tak perduli, sampai jam berapapun yang penting aku punya kesempatan buat ketemu Faza, kalau tidak diijinkan keluarpun asal aku boleh mengunjunginya, itu sudah lebih baik. Aku merasa sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa mendekati Faza, namun semua itu tak mudah, butuh waktu dan kesabaran. Pendekatanku ini sudah berjalan setahun, tapi baru kali ini aku hampir mengajaknya jalan bareng. Hampir? Ya….karena belum terjadi. Waktu-waktu sebelumnya aku tak pernah diijinkan buat menjemputnya di rumah. Semoga kali ini aku diijinkan buat menjemput. Ada rasa tersendiri boleh menjemput di rumah, karena aku merasa lebih bisa bertanggung jawab, aku ingin mengambil hati Faza dan keluarganya. Wajah dan senyumnya hadir lagi malam ini, lebih manis, mengantarku terlelap menghabiskan malam.
Gelisah aku menanti kabar dari Faza. Sehari ini tak ada kabar sama sekali. Aku harus sabar menunggu, aku yakin dia akan memberi kabar, tapi kapan? Ini sudah jam 23.18. dia pasti sudah tidur. Sebenarnya aku lelah sekali hari ini, setelah seharian beraktifitas. Menunggu berita dari Faza membuatku susah buat lelap. Semacam penyakit yang selalu kambuh, begitu juga kenangan tentang Faza, selalu membuatku resah dan gelisah, tak ada rindu yang terpuaskan tentang Faza. Dia sudah jadi virus yang siap menjangkiti, membangkitkan penyakit rindu dan insomnia, membuat hati selalu berdesir-desir, dan jantung makin cepat dan keras berdegup-degup, meningkatkan adrenalin, mengurangi selera makan. Bikin orang selalu termangu-mangu dan mengawang-awang, ingin selalu mengingat dan berimajinasi.
Aku bangkit, mengambil air wudhu. Mengurangi resah yang mencengkeram. Bagaimanapun besok aku harus tetap fresh, beberapa pelanggan akan mengambil barang dalam jumlah banyak, aku harus membantu Tihat dan Jito di kios, walaupun tanpa akupun mereka bisa mengatasinya. Tapi yang namanya pelanggan selalu saja mencariku dimana berada. Demi pelanggan aku harus siap. Kamar ibu sudah tertutup. Ibu pasti sudah tidur, satu atau dua jam lagi beliau pasti sudah terbangun kembali. Hati-hati aku menutup pintu kamar, takut mengganggu ibu. Bersujud aku, kuserahkan semua padaNya, apapun kehendakNya aku harus bisa menerimanya. Kupanjangkan sujudku, mohon ampunan dan mohon yang terbaik, memohon ridhoNya.

“Kak…nanti jadi kan?” adzan subuh belum selesai berkumandang ketika sms Faza masuk.
Dering ponsel karena sms masuk telah membangunkanku. Terlalu nyenyak aku tidur. Sampai tidak mendengar adzan subuh. Terlalu kau Man, masa nggak dengar adzan subuh, biasanya kau rajin? Aku memarahi diriku sendiri yang terlena. Beberapa hari ini kalau aku tidur terlalu malam, sering bangunku agak kesiangan, biasanya sebelum adzan subuh aku sudah bangun, bisa sholat fajar, tapi akhir-akhir ini waktu sholat fajar terlewat begitu saja.
“Mksih ya, kau tlah bangunkan aku…nanti jadi dong…jam brapa ak hrus menjemputmu?”
“Wah mf deh, tlah ganggu Kkak, kupikir Kkak pasti tlah bangun…terserah aja deh…Kkak mau jmput jam brapa aku ngikut…!”
“Smalam ak ga bisa tidur, nunggu brita dari kamu…”
“Ah Kkak kyak ank kecil aja…knapa g sms pa tlpon Faza aja?”
“Takut ganggu Faza aja…”
“Uhh Kkak gitu sih…padahal aku jga tunggu sms dri Kkak…!”
“Yang bener Za….kau tunggu smsku?”
Tidak percaya rasanya membaca sms Faza yang terakhir. Tidak percaya kalau ternyata dia juga berharap berita dariku. Berarti sebenarnya selama ini dia juga memperhatikanku, walau aku tak tahu sebesar apa perhatian yang dia berikan itu. Ada satu titik terang yang membuat langkahku menjadi lebih ringan. Ya…karena perhatian dari Faza tentunya. Sejak kapan dia memberikan perhatian padaku? Ah jangan tanya, aku tak mau Faza marah atau malu karenanya.
“Mang ga boleh?”
“Boleh Za….boleh banget. Tanks ya…habis maghrib insya Allah Kkak dah sampai….”
“Tanks buat apa?” polos Faza bertanya.
“Buat perhatianmu….hehehe”
“Huuh….narsis….”
Kubayangkan dia cemberut sambil melotot. Lucu sekali. Biasanya kalau sudah begitu dia akan melayangkan tinjunya. Pukulan spontan, tapi lebih terasa sebagai pukulan sayang. Ingin suatu saat kutangkap kepalan tangannya, sungguh aku ingin tahu reaksinya. Apa yang akan dia lakukan? Mengelak, atau menyerah? Sebuah tantangan yang tak mudah terwujud. Aku tersenyum sendiri membayangkan kalau dia mengelak sambil tertawa-tawa. Senyum dan tawanya itu yang membuatku jatuh hati. Faza…Faza…kau telah merebut seluruh perhatianku, merebut seluruh hatiku.
“Jangan marah dong…dah ga usah diambil hati aja deh…ingat ya… sampai nanti…”
Tak ada jawaban lagi. Entahlah mungkin dia marah, tapi aku berharap itu tak terjadi. Dia tak menjawab karena dia sudah mulai dengan kegiatan rutinnya. Bukankah kita punya kegiatan rutin yang selalu kita lakukan pagi-pagi?

Mendung tersaput tipis di langit. Semoga tidak hujan. kalau memang hujan jatuh toh kami, aku dan Faza tidak perlu keluar rumah, cukup duduk-duduk dan berbincang di rumahpun aku sudah berbahagia.
“Aku berangkat sekarang Za…” ku sms Faza saat aku menjelang berangkat. Sekedar sebuah pemberitahuan.
“Ok….hati2 ya Kak!” dia menjawab singkat, tanpa basa-basi atau penjelasan apapun.
Aku pamit pada ibu kalau nanti malam mungkin tidak pulang ke rumah. Ibu tak banyak memberi komentar, hanya memintaku untuk behati-hati. Aku sudah pesankan pada adik sepupuku yang kuliah di Yogya kalau aku akan menginap disana malam ini. Dia mengijinkan, tapi nanti harus saling memberi kabar. Aku sudah katakan kalau ingin mengunjungi kota itu saat malam tahun baru. dia sanggup memberi tumpangan, sekedar tempat untuk meluruskan punggung. Beberapa kali memang aku pernah mengunjunginya di tempat kostnya.
Di sepanjang jalan sudah berderet penjual terompet, apalagi ketika memasuki gerbang kota. Sampai di Borobudur plaza aku belok kiri menuju Jetis Pasiraman, tempat kos adik sepupuku. Saat maghrib masih setengah jam lagi. Aku berencana sholat maghrib di kos adikku itu. Alhamdulillah, dia belum pergi, bahkan sengaja menunggu kedatanganku.
“Mas Rahman, gabung kami aja jalan-jalan, biar ada temennya, tapi kita makan malam dulu ya Mas?” Gandung menawarkan bergabung bersama teman-temannya.
“Gak usahlah, kalian pergi saja, aku nggak mau mengganggu acara anak-anak muda. Masalah aku gampang.” Kataku. Aku memang tidak menceritakan pada Gandung kalau sebenarnya aku akan menemui seseorang malam ini.
“Walah . Mas Rahman ini kayak orang yang sudah tua aja. Gak papa Mas, Mas masih kliatan muda kok…” ya memang umurku dengan Gandung terpaut tidak terlalu jauh, hanya 4 tahun.
“Makasih Ndung. Aku sudah ada janji …!”
“Ya udah, ni Mas Rahman bawa kunci sendiri, nanti aku bawa sendiri jadi kalau pulangnya tidak bersamaan kita tetep bisa masuk rumah.”
“Begitu juga boleh Ndung.”
Adzan Maghrib terdengar, segera kuambil air wudhlu, melaksanakan kewajibanku. Selesai sholat aku bersiap ke rumah Faza.
”Aku keluar dulu saja ya…mau lihat-lihat pameran tanaman di depan Galeria dulu..”
Ke rumah Faza, aku lewat Galeria. Ada penjualan tanaman hias yang digelar disitu. Mungkin besok aku akan mampir sebentar, sekedar melihat harga pasar. Jalanan sudah mulai ramai, suara terompet sudah banyak terdengar, terutama dari penjual terompet. Satu dua pemuda melintas sambil membunyikan terompetnya yang teramat keras. Wajah Faza melintas. Aku tergeragap. Ahh… sudah hampir sampai ke rumahnyapun aku masih sempat terbayang wajahnya. Ponselku bergetar. Aku menepi. Nama Faza yang terpampang di layar.
“Dah ampe mana Kak?”
“Dua menit lagi sampai…”
“Orang ditanya dah ampe mana koq jawabnya 2 menit lagi…gak nyambung Kak…”
“Ya, maksudnya dah dekat, ni dah sampai jembatan layang.”
“Ok.”
Kupacu kendaraan sesegera mungkin. Faza pasti sudah lama menunggu, buktinya dia sampai menelepon, padahal biasanya kami cukup smsan saja. Sampai di depan rumahnya, ada debar yang aneh menyelinap. Aku butuh waktu buat menenangkannya. Ini hal yang sering terjadi, namun untuk ketemu dengan Faza, debar itu makin sering dan makin keras. Ada ngilu yang hadir. Pintu ruang tamu sudah terbuka, lampu teras terang sekali, tidak seperti pada umumnya, mereka suka menggunakan lampu yang terang. Di desa, di rumahku, menggunakan lampu secukupnya, untuk lampu teras paling 10 watt, lampu ruang dan kamar paling terang 30 watt, hanya rumah pak lurah yang lampunya terang benderang.
“Assalamualaikum!”
“Walaikumsalam” Faza yang menjawab sambil berjalan menuju ruang tamu.
“Kak…kirain kesasar lagi…jadi mau nonton?”
“Boleh…”
“Kita nonton di SO 1 Maret aja ya Kak…da pentas gamelan lho…”
Wah, gamelan? Apa dia pikir karena aku orang desa lalu aku suka sama gamelan? Suka sih suka, tapi tidak maniak. Masa malam tahun baru malah nonton pentas gamelan? Nggak lucu kan? Kalau hanya untuk lihat gamelan kenapa aku harus jauh-jauh kemari? Tiap ada orang punya hajat umumnya ada alunan gamelan. Apa sih yang menarik? Atau dia hanya nguji aku saja? Nonton pentas musik mungkin lebih keren daripada nonton gamelan.
“Kau suka gamelan Za…?” tanyaku meyakinkan.
“Suka…kadang pentas gamelan bisa membiusku…!”
Duh, gadis macam apa sih yang aku temui sekarang ini? Masa nonton pentas gamelan saja bisa terbius. Aku yang sudah terlalu sering mendengarkan gamelan saja nggak pernah bisa terbius. Kalaupun nonton pentas wayang paling saat goro-goro saja yang menarik.
“Nggak ingin nonton pentas musik yang lain?”
“Kakak ingin nonton apa dan dimana?”
“Di Purawisata biasanya ada pentas yang meriah…?”
“Haaaaaa….Purawisata…?” Sungguh terkejut dia mendengar kata-kataku. Sambil memandangiku menyelidik, seakan tak percaya, apa yang kukatakan.
“Kakak suka kesana….?”
Sebuah pertanyaan yang membuatku jengah. Apa ada yang salah dengan kata-kataku? Apa salahnya kalau aku mengajaknya ke Purawisata? Pandangan Faza sangat aneh. Ada rona tidak suka pada matanya. Yang sungguh aku tak tahu penyebabnya, demikian drastis perubahannya. Aku tahu Purawisata dari beberapa teman yang pernah berkunjung kesana, tapi aku sendiri belum pernah kesana.
“Belum…” sahutku jujur. Tiba-tiba saja wajah Faza yang tegang berubah. Sinar matanya tak lagi galak, tapi telah melunak.
“Kalau Kakak mau ke Purawisata gak papa, tapi Faza nggak ikut, atau Kakak ikut nonton gamelan dulu sama Faza baru nanti Kakak lanjut ke Purawisata. Ok…?”
“Boleh deh…Kakak ikut nonton gamelan saja.”
Akhirnya kuputuskan buat ikut nonton gamelan saja. Yang penting bisa bersama Faza, buat apa ke Purawisata kalau Faza tak mau ikut. Padahal aku kemari kan buat ketemu Faza. Bukan sekedar ingin nonton musik di Purawisata?
“Kita nonton rame-rame ya Kak, motor ditinggal disini dan kita naik bis saja. Mama sama adik mau ikut nonton nih…” aku tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk.
“Nanti kita pulang jalan kaki aja ya Kak…atau naik taksi juga boleh kalau capek…” katanya sambil tersenyum.
Sejak awal tak pernah membayangkan kami akan pergi ramai-ramai, dengan ibu dan adiknya. Berangkat naik bis, pulang jalan kaki? Nggak salah tuh? Gadis yang kukenal biasa naik mobil, mau pulang jalan kaki? Buatku jalan kaki adalah hal yang biasa, tapi bagi mereka? Apa boleh buat. Aku sudah sampai disini, sudah terlanjur basah. Mau naik bis, atau jalan kaki, aku sih oke-oke saja. Bahkan dengan berjalan kaki, waktu bisa bersamanya akan menjadi lebih panjang.
Ternyata pintar juga gadis ini, dia berani mengajakku jalan karena ada pengawalnya, ibu dan adiknya. Dengan adanya mereka tentu aku tak mungkin berbuat yang aneh-aneh. Sebenarnya ingin sekali bisa menggandengnya, menunjukkan kalau aku benar-benar ingin melindunginya. Dalam situasi seperti ini sungguh suatu hal yang mustahil. Tak apalah, yang penting aku bisa bersama Faza.
Kami berangkat naik bis, dia beralasan itu kendaraan yang paling mudah, pasti kemacetan ada dimana-mana, bukan sebuah kenyamanan kalau harus membawa kendaraan sendiri. Pilihan yang cerdas. Beberapa tempat tentu sudah ditutup jalannya, tidak boleh ada kendaraan yang lewat.
Kami naik bis sampai di perempatan Gondomanan, dari situ berjalan menuju monument 1 Maret. Jalanan sudah ramai orang berjalan menuju arah perempatan kantor pos besar. Ternyata tidak semua pengunjung menuju halaman monument, sebagian ke kiri kearah alun-alun sebagian lagi ke kanan arah malioboro sebagian hanya duduk-duduk di sepanjang trotoar yang sudah dipenuhi anak muda.
Di halaman monument pengunjung duduk di lantai di depan panggung. Heran juga, penggemar gamelan di Yogya cukup banyak. Bahkan anak-anak muda adalah pengunjung yang paling banyak, sebagian turis asing yang sangat antusias, orang-orang tua juga ada tetapi tidak terlalu banyak. Kami masuk mencari tempat yang masih agak longgar. Di sisi kiri agak ke belakang masih ada tempat. Faza membimbing kami kesana. Duduk di lantai bersebelahan dengan Faza adalah hal yang baru. Ibu ada diantara Faza dan Adik.
“Kakak diam saja dari tadi….kecewa?” tanya Faza padaku setengah berbisik sambil menoleh. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Parfumnya lembut tercium.
“Tidak…yang penting bisa bersama Faza…” jawabku sambil tersenyum.
“Huuuu…” spontan tangannya mencubit pinggangku sejenak, lalu segera ditariknya kembali.
Aku tak sempat menangkapnya. Kurang cekatan. Lalu dia kembali pada posisi semula. Terlihat ibu sedang berbincang dengan adik, terlalu asyik hingga mereka tak melihat ulah Faza. Pandangan kami kembali ke panggung.
Di panggung seperangkat gamelan tertata rapi di sisi kiri dan kanan, di belakang dekat background beberapa alat band. Dua pembawa acara laki-laki dan perempuan menuju podium. Acara segera dibuka. Ada beberapa tampilan gamelan yang bakal hadir. Terutama dari komunitas gamelan yang ada di Yogya. Tampilan gamelan yang menggabungkan nada-nada diatonis dan
Tampilan pertama dari komunitas anak muda pecinta gamelan. Dengan kostum teramat sederhana, disertai ikat kepala, mereka hadir dengan penuh percaya diri. Menyuguhkan 5 lagu. Gebrakan pertama adalah lagu jawa Mayar sewu, penonton histeris, applous yang sangat meriah buat pengrawit. Penonton semua terbius oleh alunan gamelan itu, tak ada suara lain selain alunan gamelan, kulihat pengunjung menganggukkan atau menggelengkan kepala mengikuti irama, mengetuk-ngetukkan tangan atau menepukkan tangan perlahan. Mereka semua menikmati. Terbius…ya terbius semua. Benar kata Faza. Tak terlihat pengunjung yang melayangkan pandangannya ke luar panggung, semua tertuju pada pengrawit yang menyuguhkan tampilan yang begitu apik. Penghayatan yang hebat, mereka menampilkan dengan penuh perasaan. Tidak sekedar memukul-mukul gamelan, tapi mereka bersatu dalam irama yang padu, tampilan yang penuh jiwa. Pengunjung maupun pengrawit semua menyatu dalam satu irama dalam satu jiwa. Kulirik Faza, dia begitu menikmati. Datang rasa malu pada diriku, semula aku begitu merendahkan pentas gamelan, ternyata akupun terbius karenanya. Begitu selesai lagu pertama formasi pengrawit berubah, untuk menuju lagu kedua dan seterusnya. Hampir setiap ganti lagu maka pengrawit akan berubah formasi.
Setelah terbius dengan alunan lagu yang pertama, aku terperangah pada lagu berikutnya. Lagu rock dut yang ditampilkan demikian apik, dinamis disuguhkan dengan sangat bagus. Tak berbeda dari tampilan pertama, suguhan kedua ini juga sangat mempesona. Pengunjung rela tak beranjak, tak ada suara lain selain decak kekaguman. Ketika acara dilanjut gamelan gaul ekspresi dan shuffle. Dan kembali berakhir dengan lagu jawa. Tak satupun pengunjung yang beranjak dari tempat duduknya masing-masing. Semua terpesona, tersihir.
Serasa tak puas aku menikmati sajian gamelan kali ini, tak biasa. Sajian gamelan yang dikemas khusus hingga bisa dinikmati oleh banyak generasi, tanpa meninggalkan pakem gamelan yang sebenarnya. Kalau sajian gamelan seperti ini ada dimana-mana maka generasi muda akan banyak yang mau menikmati gamelan. Nguri-uri kebudayaan Jawa.
“Gimana Kak….? Bagus nggak…?”
“Kakak kecewa….?”
“Kecewa? Sayang…” ada rasa tidak nyaman ketika Faza mengulang kata-kataku.
“Kecewa….kenapa selesai?” kataku tanpa menoleh sambil menahan senyum.
“Heeemmm…. Kakak jahat…” katanya gemas tanpa menengok, tapi tangannya cepat mencubit betisku. Tak kusiakan kesempatan kutangkap tangannya cepat dengan tangan kiriku. Masih dengan posisi tetap menghadap panggung menanti komunitas berikutnya menampilkan suguhannya. Dia mencoba melepaskan diri, makin dia meronta makin erat genggamanku. Aku yakin dia tidak akan berteriak, paling dia akan berusaha untuk melepaskan tangannya begitu saja. Aku tersenyum penuh kemenangan. Ayo Za, berusahalah buat lepas, biar aku punya kesempatan buat lebih dekat denganmu. Aku berkata dalam hati. Sebentar usahanya untuk melepaskan diri melemah. Kulirik Faza, diam dan wajahnya resah. Iba aku melihatnya.
“Za…” sapaku.
Tak ada jawaban, dia bahkan menunduk sambil mempermainkan ujung kakinya. Kelihatan sekali kalau sedang resah. Tangannya masih dalam genggamanku, tapi tak ada usaha lagi buat melepaskannya.
“Za…” kembali kuberbisik di telinganya. Kueratkan genggamanku, kualihkan kepangkuan. Kutempelkan ke dadaku yang gemuruh. Dengan cara itu ingin kuberitahukan Faza apa yang ada dalam hati dan perasaanku. Betapa jantung ini berdegub lebih kencang. Faza diam saja. Mendung bergayut di wajahnya. Suasana yang agak gelap membuatku leluasa mempemainkan tangannya. Tangannya yang dingin kugenggam erat, ingin kualirkan hawa hangat buatnya. Sebenarnya ingin sekali aku merengkuhnya dalam dekapanku, saat melihatnya seperti itu. Ingin memeluknya, membuatnya tersenyum bahagia. Dia mendongakkan kepalanya, seolah menatap bintang, tapi aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan dan sedang diusahakan untuk tidak jatuh dari sudut matanya. Betapa dia berusaha mengerjap-kerjapkan matanya. Aku merapatkan dudukku, biar dia bisa sedikit menyandarkan badannya ke tubuhku. Tapi itu tak dia lakukan. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan dan dia rasakan. Marahkah atau justru gembira. Tak mudah menebak suasana hatinya yang bisa berubah setiap saat. Pelan-pelan kulonggarkan genggamanku, walau tetap berada di pangkuanku. Pelan-pelan dia menarik tangannya sambil menunduk dan berbisik.
“Makasih.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, selain mengangguk. Sebenarnya aku masih ingin mengenggam tangan itu. Tapi melihatnya resah, aku merasa sangat bersalah. Ingin kutumpahkan semua rasa yang ada, biar dia tahu, bahwa aku sangat mencintainya. Namun tak ada suara yang terucap hanya dada yang bergemuruh tak terkendali.
Sampai pulang pun tak ada lagi kata-kata yang terucap antara kami, selain basa-basi di depan ibu dan adik. Sepanjang perjalanan, dengan jalan kaki, tak ada yang terucap. Sesekali ibunya menanyakan sesuatu padaku atau Faza, itu saja yang menjadi bahan perbicangan. Antara aku dan Faza sendiri tak ada percakapan sama sekali. Sesekali kuajak bercanda, Faza tak menimpali. Perjalanan malam itu menjadi perjalanan yang teramat panjang dan melelahkan.
Malam itu aku pulang dengan hati yang tak menentu. Bahagia bisa bersama Faza, namun sedih karena tak sepatah katapun keluar dari bibir Faza sampai aku pamit pulang, hanya anggukan kepala, tak lebih.

8. Panggil Aku Mas

Bahasa daerah? Apa aku bisa? Itu yang pernah dia katakan padaku, ketika aku menanyakan mengapa dia suka berbahasa Indonesia padahal dia kan orang Jawa. Orang tua dari Jawa, lahir di Jogja bahkan sepanjang usianya dia tinggal di Jogja.
“Kak, aku tidak fasih berbahasa daerah….”
Katanya ketika itu. Saat aku menemuinya di kotaku ketika dia berkunjung ke rumah Oom nya. Kuajak dia keluar makan ketupat tahu kesukaannya…
“Enak Za….kau terlalu suka pedas.” tanyaku melihatnya makan dengan nikmat.
“Its ok, very delicious…!” jawabnya sambil mengacungkan ibu jarinya, tangannya masih asyik menyendok kuah berwarna coklat beraroma pedas itu.
“Kakak nggak makan…?” dia bertanya melihat piringku masih banyak terisi. Memandangiku, wajahnya memerah kepedasan. Cantik sekali dia. Bagiku dalam keadaan apapun, dengan posisi seperti apapun, dilihat dari sisi manapun, aku selalu bisa melihat hal yang menarik buat dipandang. Detak jantungku selalu bertalu-talu dalam keadaan seperti ini. Kenapa selalu saja aku merasa teramat resah bila dekat dengannya. Selalu ingin dekat, ingin memandanginya. Segera kuhabiskan makanku, melihat Faza telah selesai makan.
“Aku ingin sekali mendengar kau berbahasa daerah…. Selama ini beberapa kali aja aku dengar….“
“Ada apa sih Kak?”
“Ingin dengar aja…!”
“Mang ada bedanya?” tanyanya sambil memandangiku lekat-lekat. Kutatap matanya, kucari jawab tanyaku dimatanya. Dia tersenyum. Senyum itu, senyum yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.
“Ada.” sahutku tanpa melepaskan tatapanku.
“Kurasa orang ngomong pakai bahasa apa saja sama… mau pakai bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Osing, bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahkan bahasa tarsan pun boleh digunakan, nggak ada bedanya!” saat berkata-kata tangannya berekspresi.
“Beda….”
“Sama….” jawabnya sedikit galak.
“Apanya yg sama….?” tanyaku ingin tahu pendapatnya.
“Bahasa apapun yang digunakan di dunia ini adalah untuk berkomunikasi….” jawabnya tegas.
“Hanya itu….?”
“Salah satu sarana untuk mengungkapkan isi hati…?”
“Ok…bahasa yang digunakan tiap daerah berbeda, karena masing-masing memiliki adat yang berbeda. Dalam bahasa Jawa ada unggah-ungguh , tata cara, bahkan dalam hal menyapa saja ada tatacaranya…?”
“Iya sih…itulah sebenarnya yang bikin ribet ….jadi aku sering takut salah penempatan…”
“Nggak susah kok, kalau mau membiasakan?”
“Kak…aku lahir dari keluarga Jawa, tapi mereka berbeda. Orang-orang di sekitarku lebih banyak mengajakku berkomunikasi dengan bahasa Indonesia sejak kecil, sejak bayi bahkan. Nenekku mengajariku bahasa daerah, kakekku juga. Ibuku kadang-kadang. Sedang bahasa ibu bagiku adalah bahasa Indonesia, karena di rumahku semua mengajaku berkomunikasi dengan bahasa itu. Kakak tahu, Bapakku ni…. walaupun beliau orang Jawa tapi pada awal pernikahan, beliau takut berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan mertuanya. Jadi wajar dong kalau aku tidak terlalu sering menggunakan bahasa daerah!” katanya memberi alasan yang dianggap logis.
“Boleh gunakan bahasa nasional tapi harus bisa bahasa daerah. Kalau bukan kita yang menjaga bahasa kita ini, lalu siapa? Nunggu kita belajar sama orang Belanda?”
“Emang kenapa sih, Kakak semangat banget nyuruh Faza pakai bahasa daerah? Dapat pesanan dari dinas pariwisata ya? Apa dari Kementrian budaya dan pariwisata ?” menebak-nebak menanyakan alasanku.
“Faza tahu nggak sebutan Kakak dalam bahasa Jawa apa….?”
“Yach kalau itu sih aku tahu Kak. Kalau gak tahu ya kebangetan kan. Kalau gini mah namanya pelecehan….?” katanya pura-pura merajuk. Tingkah seperti ini jarang sekali dia lakukan padaku. Semua selalu terkesan formal.
“Kalau Faza nggak jawab, Kakak anggap nggak tahu….”
“Mas buat laki-laki dan mbak buat perempuan.” dia menjawab tanpa semangat.
“Nah gitu dong….Faza tahu nggak apa yang Kakak pikirkan?” tanyaku memacing perhatiannya. Aku ingin dia bertanya-tanya apa yang hendak kuugkapkan.
“Lho kalau Kakak nggak bilang gimana aku tahu? Mang aku tukang ramal pa? Bisa nebak isi hati orang?” jawabnya tak tak peduli.
“Ya udah kalau Faza nggak tahu… berarti rahasia Kakak biar tetap jadi rahasia…” aku masih menggoda, mengharap dia penasaran dengan kata-kataku.
“Ya kalau itu rahasia jangan disebutin dong… kalau dikasih tahu ke orang lain berarti bukan rahasia lagi namanya!” Oooo … dia tidak memaksaku untuk mengatakannya, padahal aku ingin dia penasaran dan aku akan mengatakannya dengan syarat.
“Faza nggak ingin tahu rahasia Kakak itu apa?”
“Nggak, nggak etis. Yang namanya rahasia ya harus dijaga. Ya kan…?”
“Bener nih….nggak ingin tahu…?”
“Nggak…” kukuh dia dengan pendapatnya, atau bahkan dia sudah tahu arah pembicaraanku? Lalu dia mencoba untuk membentengi diri?
“Wah Kakak jadi kecewa nih…?” kuungkapkan lugas rasa kecewaku. Karena kapanpun aku harus mengatakan keinginan kecil hatiku buat Faza.
“Koq…?” wajahnya bertanya-tanya tak mengerti. Ditatapnya mataku, dia mencoba mencari-cari jawabannya dari mataku.
“Karena Faza nggak ingin tahu…?”
“Katanya rahasia…?”
“Rahasia Kakak buat Faza.” jelasku padanya
“Kakak ingin Faza tahu? Gitu? Apa mau bikin Faza penasaran…?”
“Ingin Faza tahu!”
“Nggak ah…Faza nggak ingin tahu…” wuih wuih…. sombongnya dia, cuek, tak ada celah sedikitpun buatku mengatakan keinginanku. Semua pintu ditutupnya. Membuatku jadi gundah. Tapi aku tak ingin memaksa.
Duh sulitnya menggiring pembicaraan ini, padahal hanya sederhana saja yang aku mau. Panggil aku Mas. itu saja, aku ingin Faza panggil aku Mas. Dengan panggilan kakak aku jadi merasa teramat jauh dari Faza. Jauh tak teraih. Aku tahu maksudnya memanggilku kakak, tentu karena dia menghargaiku, menghargai yang lebih tua.
“Kakak marah?” dia bertanya polos melihat kediamanku. Aku hanya menjawab dengan senyuman.
“Faza suka Kakak marah?”
“Nggak juga sih…”
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Oomnya, tak banyak kata yang terucap. Aku lebih banyak diam, Faza kelihatan membatasi diri. Kendaraan kujalankan pelan-pelan. Kulihat wajahnya dari kaca spion. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. Bahkan ketika kuajak putar-putar kota dia diam saja. Tak banyak komentar.
“Kau pulang kapan Za…” tanyaku ketika aku mau pamit pulang setelah sampai di rumah Oomnya.
“Lusa, mang kenapa Kak?”
“Kakak antar mau?”
“Nggak ah, mau diantar Oom sama tante…”
“Tumben kau pergi berlama-lama.”
“Sesekali dong, besok mungkin akan lama aku tak bertemu mereka.”
“Kenapa?”
“Yach…. aku dipindahkan ke kantor pusat.”
Ada rasa ngilu mendengar pengakuannya. Kalau dia dipindahkan ke kantor pusat, berarti kemungkinanku buat bertemu akan semakin kecil. Dengan posisi yang tidak terlalu jauh ini saja, aku jarang bisa bertatap muka, apalagi kalau dia jauh. Semakin kecil saja kesempatanku. Masih adakah kesempatanku buat mengungkapkan isi hatiku pada Faza? Tinggal beberapa hari, aku harus berkata secepatnya, apapun hasilnya.
“Mulai kapan?”
“Bulan depan. Kenapa sih Kak?”
“Besok malam ada acara nggak?”
“Paling jalan-jalan sama adik sepupuku. Ada apa?”
“Besok malam ada acara di rumah…Kalau Faza mau datang tentunya aku harus berbangga hati.”
“Acara apa…?”
“Besok Faza akan tahu…”
“Rahasia ya?”
“Acara keluarga.”
“Nggak ah, kalau Kakak nggak kasih tahu aku…!”
“Pengajian khusus buat Bapakku…besok tak jemput ya…sebelum maghrib, malam tak antar pulang lagi....”
Kulihat dia bimbang sebentar. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Lega sekali rasanya. Akhirnya aku bisa membawanya ke rumah tanpa memaksanya. Terima kasih ya Allah atas segala kasihmu…
“Za…!”
“Ya Kak.”
“Boleh minta sesuatu Za?”
“Duduk dulu deh. Mau apa…Air putih? Apa teh ? Tapi jangan es ya…!”
“Panggil aku Mas…!” kataku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya erat. Kutatap matanya lekat-lekat, ada cahaya jernih yang memancar. Ada yang berkilat-kilat dimatanya. Dia tidak mencoba mengalihkan pandangannya, dia juga tidak menolak genggamanku. Aku jadi ingat ketika kami nonton gamelan saat tahun baru. saat itu dia berusaha menarik tangannya yang kupegang erat, tapi semua berakhir dengan diam, tanpa kata. Kini yang ada binar-binar riang berkilat dimatanya yang bulat jernih…

9. Hangatkan Hatiku

Semalam aku jadi susah tidur. Hanya Faza yang ada dalam angan dan bayanganku. Secercah harapan hadir, ingat Faza yang terpesona karena aku memintanya buat menyebutku dengan sebutan Mas. Tak ada penolakan sama sekali saat kupegang erat tangannya. Tatapannya bertabur binar-binar riang, kilaunya menyejukkan. Membesarkan harapanku.
Sore itu, ketika aku menjemputnya, dia sudah rapi. Celana hitam, blus pink lembut, jilbab pink, tampilan yang ceria, seceria hatinya mungkin ya? Senyumnya merekah ketika menyambutku.
“Sekarang Kak?” tanyanya saat aku sampai teras, tanpa mempersilakan aku duduk dulu.
“Boleh, sudah siap kan?”
“Bentar ya…” dia masuk pamit tantenya kalau mau pulang agak malam. Keluar kembali menenteng selop dan tas batik kesayangannya.
“Boleh aku minta ijin tantemu dulu? Nggak enak kan, bawa gadis orang tanpa ijin. Padahal kita akan pulang agak malam.”
“Tan…. mau pamit ni Tan…!” serunya sambil melongok ke dalam. Seorang wanita muda berjalan keluar sambil melap tangannya yang basah. Tersenyum memandangku.
“Mau berangkat sekarang? Titip Faza ya…”
“Ya, saya permisi dulu …. Saya ajak Faza, saya antar pulang sekitar jam 10.00.” kataku santun, agak jengah juga harus menyapanya dengan sebutan apa.
“Hati-hati ya… ke Tegalrejokan? Kalau perlu sesuatu telpon Oom, Za…” katanya padaku dan Faza.
“Terima kasih, kami pamit.” sahutku.
“Ok Tan…berangkat dulu ya Tan…!” kata Faza sambil memeluk tantenya dan mencium pipinya. Dekat sekali dia dengan tantenya, seperti dengan temannya saja.
“Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Berboncengan dengan Faza di udara sore, parfumnya lembut, menyentuh hidungku. Parfum yang tidak murah mestinya, lembutnya khas, tidak merangsang. Tak terburu-buru aku berkendara, ingin lebih lama berdekatan dengan Faza. Kulirik wajahnya dari kaca spion, pandangan kami beradu. Ternyata kami sama-sama mencuri pandang. Dadaku gemuruh. Kulihat wajah Faza yang memerah sudah berpaling. Makin kuat rasaku kalau dia juga memperhatikanku. Kugeser dudukku ke belakang, lebih mendekat. Udara memang lebih dingin dari biasanya, angin bertiup lebih keras. Sekilas kulihat mendung tipis terbawa angin.
“Dingin Za…?” kutatap dia dari kaca spion.
“Agak…!” dia mencoba melihatku dari kaca spion pula lalu dia tersenyum.
Dengan tangan kiriku, kuraih tangan Faza kuletakkan di pinggangku. Dia diam tak menolak. Saat di lampu merah kuraih tangan kanannya, sama, Faza diam tapi tak melepaskan tangannya dari pinggangku. Denyar-denyar itu hadir lagi. Dengan kedekatan ini makin terasa jantung Faza yang berdegub lebih kencang. Dadanya dekat sekali dengan punggungku, aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya, aliran nadinya. Rasa hangat mengalir di seluruh tubuhku. Faza, kau buat aku jadi lebih merindukanmu. Ingin selalu berdekatan denganmu, tapi apa itu mungkin? Sebentar lagi kau berada jauh disana. Terasa Faza menyandarkan kepalanya di bahuku, nafasnya hangat menyentuh kudukku. Berdiri seluruh bulu roma, aliran nadiku semakin cepat, adrenalin terpacu. Jantungku bekerja lebih keras memompa darahku. Tanpa terasa aku sudah memasuki halaman rumah. Faza tergeragap, buru-buru melepaskan tangannya yang semula melingkari pinggangku. Wajahnya bersemu merah. Manis sekali. Turun dari boncengan dengan wajah tercengang memandang sekeliling. Pandangannya jatuh di hamparan anggrek di halaman samping rumah.
“Exotis….?” gumamnya.
“Za….?”
“Ya Kak…?” panggilanku mengganggu keasyikannya memperhatikan hamparan anggrek.
“Panggil Mas ya…?”
“Ahh…nggak biasa…!”
“Nanti pasti jadi biasa…ingat panggil Mas ya…?” kataku sambil menggamit tangannya. Dia memandangku lucu. Aku tersenyum. Dia menunduk menatap ujung selopnya. Kusentuh dagunya, aku ingin dia menatap mataku, merasakan kesungguhan hatiku. Merasakan resahku selama ini. Faza tak berkata, hanya menatap aku dengan senyum, tapi matanya, matanya yang mengatakan isi hatinya yang tak pernah bisa kuraba.
Kugandeng dia masuk ke rumah, di dapur sudah banyak orang yang membantu mempersiapkan uba rampe untuk acara nanti malam. Mendengar langkah kami masuk beberapa orang menengok memperhatikan. Aku tersenyum, mereka membalas dengan senyum sambil mengangguk. Kehadiran Faza di sampingku telah menyita perhatian mereka. Kuedarkan pandangan, tak ada ibu di dapur.
“Ibu mana ya mbak…?” tanyaku pada salah seorang dari mereka.
“Sejak tadi tidak di sini koq Mas…” sahutnya sambil memandangi kami tersenyum.
“Di ruang samping Mas.” kata yang lain.
“Matur nuwun mbak.” kataku sambil melangkah ke ruang samping.
Beberapa orang melihat Faza tak berkedip, yang dipandang salah tingkah, tangan Faza jadi dingin, mungkin nervous dia. Kueratkan peganganku, alirkan kehangatan, harapanku genggaman ini menenangkan. Tenang Za, ada mas disini, yang selalu siap bersamamu, kataku dalam hati. Seperti anak kecil dia mengikuti langkahku tanpa suara, melangkah menuju rumah samping. Terdengar suara orang berbincang di dalam. Kami masuk, Faza mengeratkan pegangannya.
“Assalamualaikum….” kuucapkan salam.
“Walaikumsalam….” suara mereka menjawab salamku.
Ada ibu disitu sedang menata makanan kecil di piring-piring dan toples dibantu Yu Kemi dan Indah anak gadisnya.
“Man…?” ibu memandangku penuh tanda tanya.
“Faza Bu.” kataku, menjawab pandangan ibu yang penuh tanya. Ibu tersenyum memandang Faza.
“Ini ibu Za.” kuperkenalkan ibu pada Faza. Dia tersenyum lalu mengulurkan tangan pada ibu, mereka saling berjabat tangan.
“Ini Yu Kemi, dan ini Indah putranya.” kataku memperkenalkan yang ada dalam ruangan itu. Faza tersenyum pada mereka dan mengulurkan tangan tak lupa berjabat tangan sambil memperkenalkan diri.
“Ayo nak, ajak ke ruang tamu Man.” Ibu memerintahku mengajak Faza ke ruang tamu. Faza memandangku.
“Boleh saya di sini membantu Ibu?” Faza bertanya pada Ibu.
“Eh…tamu tempatnya di ruang tamu…. Ayo Man ajak Faza….” Faza memandangku memohon pengertian.
“Biar disini sajalah Bu, Faza kan ingin bantu ibu, lagian disini banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Rahman disini juga, mau bantu ibu!” kataku. Ah baru kali ini aku menolak permintaan ibu, semoga ibu tidak marah.
“Baiklah…. Ndah pundhutke unjukkan ya Nok! ” kata ibu pada Indah.
“Inggih Bu….” Sahutnya sambil beranjak ke dapur.
“Nggak lelah Nak….?” tanya ibu pada Faza.
“Tidak Bu, terima kasih diijinkan membantu disini… apa yang bisa saya lakukan Bu?”
“Ini wajik ditata di piring, kembang goyang masukkan toples. Hati-hati biar baju dan tangan tidak kotor.” Ibu menasehati.
“Inggih Bu…” Ibu berhenti dan menengok Faza tak percaya mendengar kata-kata Faza. Faza mengambil beberapa potong wajik dengan alas daun, ditatanya di piring, rapi dan cantik tatanannya. Terlihat ibu suka dengan hasil kerja Faza.
“Lho, iso boso Jowo ta Nak? ” tanya ibu.
“Sekedik Bu… ”
“Lha tak kiro ki cah Jakarta, raiso Jowo. ”
“Besok Faza jadi anak Jakarta Bu.” kataku menjelaskan pada ibu.
“Maksudmu apa Man?”
“Bulan depan dia dipindahtugaskan di Jakarta.”
“Benar begitu Nak Faza…”
“Benar Bu…”
Cekatan Faza membantu ibu mempersiapkan makanan kecil, menata di piring dan memasukkan ke toples. Sambil berbincang dengan ibu, Yu Kemi dan Indah. Aku hanya memandangi mereka sambil tersenyum. Hanya Indah yang tak banyak bersuara, berkali-kali kulihat dia mencuri pandang pada Faza dan padaku. Entah apa yang dipikirkannya, anak klas dua SMK yang baru mekar, namun senyumnya banyak disimpan untuk sendiri. Beberapa kali pandanganku dan Indah beradu, dia cepat-cepat mengalihkan pandangan atau menunduk. Sebenarnya dia anak yang manis sekali.
Melihat ibu bisa menerima Faza, dan Faza bisa berbaur dengan mereka aku bahagia sekali. Dengan cara ini aku ingin memperkenalkan Faza pada keluargaku. Sejak awal aku yakin Faza akan bisa membawa diri di hadapan mereka, walau sering terlihat angkuh, tapi sebenarnya Faza punya pribadi yang supel. Bahkan Aril, ponakanku yang berumur 8 bulan langsung lengket begitu ketemu Faza, nggak mau lepas. Faza sendiri tak mau melepaskannya. Begitu mudahnya dia menarik hati anak kecil. Kata orang tua-tua, anak-anak mudah dekat dengan orang yang tulus hati mengajaknya, menyayanginya. Kulihat wajah bahagia Faza ketika menggendong si kecil. Kudekati dia kucium ponakanku dalam gendongan Faza, dia kegelian, meronta-ronta ingin lepas. Mencoba menghindarkan wajahnya dari ciumanku.
“Jangan dong Kak…. Geli dia kena kumis tu lho…” katanya sambil setengah mendorongku menjauh.
“Mas….” kataku mengulang sebutan Faza padaku.
“Ahhhh….” dia tersipu malu.
“Panggil aku Mas…. ya Yang….” Aku berbisik di telinganya.
“Huuuu….. sayang - sayang….” katanya sambil cemberut, tapi wajahnya memerah.
“Aku sayang bener koq sama Faza…” kataku berterus terang dengan suara setengah berbisik, sambil menggoda ponakanku.
“Maunya apa sih…?”
“Maunya kita bersama…”
“Maksudnya….?”
“Aku mau melamarmu…?” aku bersungguh-sungguh.
Kupegang tangannya yang menepuk-nepuk ponakanku. Dingin, sedingin es. Faza tak berkata-kata, wajahnya memerah, di bawah lampu aku melihatnya jelas. Mungkin Faza tak mengira akan secepat ini aku memintanya, apalagi melamarnya, sementara mengatakan jadian saja belum pernah. Sudah terlanjur basah, langkahku sudah mantab jadi aku harus mengatakannya sekarang, kalau aku serius menginginkannya menjadi istriku. Sebelum dia terbang jauh. Aku sudah siap dengan jawaban apapun dari Faza, pahit maupun manis. Semua ada resikonya dan aku sudah siap menghadapi resiko itu.
“Za….!” Dia hanya tersenyum, tak berkata apa-apa. Selalu begitu, kalau kami berbincang tentang hal yang sensitive sulit mengajak Faza menanggapi dengan cepat. Hanya senyum yang sering tersungging. Senyum yang tak menjawab pertanyaan. Karena semua masih menjadi misteri yang harus diungkapkan. Karena senyum bukan berarti setuju. Dan aku tak mau tertipu.
“Mas Rahman diminta ke depan, mbak Faza juga, sini Aril biar saya yang gendong.” kata Yu Kemi pada kami.
“Mas Rahman saja, biar aku disini sama Aril.” Mas…Mas Rahman? Nggak salah dengar aku? Faza menyebutku Mas? Betapa girang hatiku mendengarnya. Kutatap dia lekat-lekat, pandangannya masih pada Aril. Digodanya anak kecil itu, yang semula sudah hampir menangis karena ulahku. Kini Aril terkekeh-kekeh di tangan Faza. Ayo Za…. Pandang mataku. Ingin kucari jawab pada matamu, aku yakin bisa membacanya. Kutunggu Faza memandangku, tapi itu tak dilakukannya. Aku tahu dia menyembunyikan perasaannya dengan menggoda Aril, mengalihkan perhatiannya dariku.
“Mangga lho Mas’” Yu Kemi mengulangi.
“Nggih Mbak. Faza nggak ikut? Ok, nggak pa pa, kalau Aril rewel berikan Yu Kemi saja ya, Mas ke depan dulu.”
Aku setuju permintaan Faza. Yu Kemi hanya mengangguk, Faza mengangguk. Aku mengerti, Faza ingin menyendiri, mencerna kata-kata yang kuucapkan tadi. Dengan masih menggendong ponakanku dia akan leluasa memikirkannya, karena orang lain akan berpikir dia mengasuh anak itu. Tentunya itu hanyalah sebuah cara Faza untuk mengalihkan perhatian orang.

Acara selesai, aku menuju ruang samping. Kulihat Faza duduk sambil membaca buku di samping Aril yang sudah tidur nyenyak di amben panjang. Beberapa kali kulihat pandangannya jauh dari buku yang dipegangnya. Buku yang dipegangnya tak berpindah halaman, ada sesuatu yang dipikirkannya. Selintas terselip rasa berdosa melihatnya menjadi seperti ini. Dia gadis yang riang dan ceria, tapi beberapa kali dia harus mengalami guncangan karena tingkahku. Hari ini adalah kesekian kalinya aku membuatnya seperti ini, karena aku terlalu menggebu-gebu. Beberapa menit aku memandanginya sampai dia tahu. Dia menengok sambil tersenyum. Senyum itu yang telah membuatku jatuh hati padanya. Ah… ternyata dia tidak marah. Aku mendekatinya.
“Sudah selesai, mau kuantar sekarang apa nanti?” Dia mengangguk. Dimasukkannya buku yang tadi dibaca, kemudian beringsut turun. Kubimbing tangannya berdiri, kubantu dia mencari selopnya di bawah amben, dia tak menolak.
“Thanks.” katanya singkat.
“Minta ijin ibu dulu ya?”
Tak berkata apa-apa dia mengikutiku, ke rumah depan, ibu masih di sana berbincang dengan beberapa tamu yang masih tinggal. Tapi hari sudah terlalu malam, aku harus segera mengantar Faza pulang. Sebenarnya tidak enak mengganggu mereka berbincang, tapi apa boleh buat.
“Maaf…. Bu, Rahman ngantar Faza pulang dulu…?” kataku sambil bersalaman dengan tamu yang masih ada.
“Calonnya mas Rahman?” tanya pakdhe Wongso.
Aku hanya tersenyum sambil menengok pada Faza, yang kupandang hanya tersenyum dipaksakan.
“Hati-hati Man, lain saat datang lagi ya Nak.” ibu menjabat tangan Faza dan memeluknya. Faza mencium tangan ibu sambil tersenyum.
Kami beringsut meninggalkan tempat itu. Mengambil motor di halaman samping. Udara menggigit. Dingin.
“Sebentar ya…tunggu sini.” perintahku pada Faza. Aku masuk kamar kuambil jaket, sedikit parfum menghilangkan bau apek dari lemari kayu.
Faza masih berdiri tenang bersedekap di samping motor.
“Dingin…?” dia hanya mengangguk. Jaket yang kubawa kuselimutkan padanya.
“Pakai ini…” kataku. Tanpa kata dia mengenakan jaket yang kuberikan. Mengurangi dingin yang makin menusuk kulit. Kupakai jaket yang masih tergantung di motor. Lembab. Dingin. Aku sudah bersiap di atas motor. Faza sudah duduk di boncengan. Motor belum ku starter.
“Za….”
“Hemm…”
“Kamu marah…”
Tak ada jawaban dari Faza. Hanya nafasnya terasa di punggungku. Dia mendesah.
“Faza nggak mau bilang apa-apa sama Mas?”
Harus bagaimana agar dia bisa bicara. Tak ada kata-kata terucap dari bibirnya. Aku mengubah posisi dudukku, menyamping. Kuambil tangan Faza. Dingin. Wajahnya menunduk, dekat sekali denganku.
“Za….kalau memang Faza nggak suka Mas berlaku demikian, Mas mohon maaf. Mungkin Mas terlalu lancang melakukan ini. Mas terlalu menyayangimu Za….sejak dulu. Sejak kita bertemu di Pingka Mina. Sejak lama Mas ingin mengatakannya, tapi susah mencari saat yang tepat buat bicara. Sering kali ada kesempatan, tapi Faza selalu mengalihkan perhatian itu.”
Tangannya yang dingin semakin dingin. Kuremas tangannya. Masih tak ada jawaban, selain tarikan nafas panjang.
“Mas tahu diri. Mungkin orang seperti Mas bukan idamanmu. Karena memang kesenjangan yang ada terlalu lebar. Kau orang berpendidikan, mas hanya seorang petani desa. Orangtuamu kaya, orangtuaku miskin. Sering aku merasa bagai pungguk merindukan bulan. Tapi mas merasa sikapmu selama ini tak pernah menolakku. Mungkin mas gedhe rasa ya? Kalaupun Faza menolak, tolong jangan puasa bicara. Mas siap menerima apapun jawabannya.”
Faza masih diam, tapi detak nadinya cepat, memburu. Terasa dari nadi tangannya yang kupegang.
“Ok…maafkan Mas ya Za…. Telah sempat membuatmu tidak nyaman. Semoga berikutnya kita tetap bisa menjadi teman yang baik.”
Rasanya pupus sudah harapanku. Tak ada kata terucap, tak ada reaksi. Semua dingin. Sedingin udara malam ini. Detak nadi yang keraspun tak mampu menghangatkan badan yang rapuh.
Sepanjang perjalanan kami terdiam. Karena dingin yang menggigit, kuambil tangan Faza, kulingkarkan di pinggang. Faza diam tak menolak. Apa sebenarnya yang dipikirkan gadisku ini. Dari sikap-sikapnya selama ini tak ada penolakan sama sekali. Kalaupun dia marah, pada pertemuan-pertemuan berikutnya, sepertinya dia telah melupakan kemarahannya, semua kembali ceria dan riang. Beberapa pertemuan memang diakhiri dengan diam tanpa kata. Dingin yang menggigit membuatku berkendara tak terlalu cepat. Sebuah kegagalan tak harus membuatku putus asa. Aku yakin Tuhan akan memberikan yang paling baik buatku.
Sampai di depan rumah, Faza tak segera beranjak.
“Boleh bicara sebentar nggak Kak?” tanya Faza memohon.
“Boleh, ada apa?”
“Di bawah pohon alpukat ada ayunan.”
Kami menuju tempat yang ditunjukkan Faza. Setelah motor kusandarkan di samping pintu pagar. Ada tanya dalam hati, apa yang akan dia katakan. Sebuah vonis? Aku arus siap menerima segalanya. Harus. Aku laki-laki. Faza duduk di ayunan, aku duduk di bangku di dekatnya. Faza tak segera bersuara. Tarikan nafasnya panjang. Dia mendesah. Aku bertahan tak mengusiknya, walaupun aku segera ingin tahu apa yang akan dikatakannya.
“Kakak ingin jawaban apa dari Faza?” sungguh tak menyangka aku akan dihadapkan pada pertanyaan seperti ini. Sebenarnya aku lebih suka dia mengatakan ya atau tidak, daripada mengembalikan pertanyaan itu padaku. Kupandangi Faza dalam remang lampu taman, dia memandangiku menunggu jawaban.
“Faza tentu sudah tahu jawabannya. Aku ingin mendengar jawaban dari Faza. Aku nggak ingin menebak-nebak.”
“Kakak nggak sakit hati mendengar jawabannya nanti?”
“Kakak harus siap menerimanya, pahit maupun manis. Apapun jawabanmu Kakak siap mendengarnya.” Jantungku berdebar lebih keras dari biasanya.
“Aku belum siap menikah Kak.” Lemas seluruh sendiku mendengar jawaban Faza seperti itu. Tak ada daya. Lidah jadi kelu, banyak tanya yang ingin kusampaikan, tapi lidah ini tak mau banyak bergerak. Hening sesaat.
“Maafkan Faza, telah buat Kakak kecewa.”
“Nggak pa pa Za, mungkin memang kita belum jodoh, Kakak memakluminya, menyadarinya. Kakak juga minta maaf kalau selama ini kakak telah mengganggumu.”
Suara jengkerik dan burung puyuh, tak merusak keheningan yang ada. Menjadikan malam lebih ngelangut . Malam beringsut makin jauh. Aku berdiri hendak mohon diri.
“Aku pulang dulu Za….aku harus ketemu Oommu.”
Faza tak bergeming, ayunan yang didudukinya diayun pelahan.
“Kakak terburu-buru?”
“Sudah malam Za…”
“Tak ada waktu lagi buat Faza?”
“Sudah terlalu malam Za…”
“Ok…” akhirnya dia berdiri dan melangkah masuk memanggil Oomnya.
Oomnya keluar menemuiku.
“Sudah mau pulang?”
“Sudah malam, saya mengantarkan kembali Faza, terima kasih atas ijinnya.”
“Makasih lho sudah diantar pulang.”
“Permisi.”
“Mangga, nderekaken”
Aku menuntun motor keluar pagar, Faza masih mengikutiku, Oom Faza sudah masuk kembali.
“Pulang Za…” kataku sambil merapatkan kancing jaket. Faza melepas jaketnya, dan menyerahkannya padaku.
“Terima kasih ya Kak…. Besok kalau Faza sudah siap Faza akan beritahu Kakak….”
“Maksud Faza…?” tanyaku tak mengerti kata-katanya.
“Ya kalau Faza dah siap buat menikah Faza pasti kasih tahu Kakak…. Biar Kakak bisa mejemputku…”
Hati yang semula sudah putus harapan, kembali berbunga. Ternyata Faza bukan menolak, hanya menunda, menunggu dia siap. Aku tahu. Aku juga tidak ingin secepat itu menikah tanpa persiapan. Aku hanya ingin segera mengungkapkan keinginan hati. Kapanpun Faza siap, aku sudah siap. Faza terlalu pandai kau bersandiwara.
“Nggak salah dengar aku Za?” kupegang bahunya. Faza menggeleng. Kupandangi mata Faza mencari kepastian jawaban. Mata itu berkilat-kilat. Ada bulir bening meluncur dari sudut matanya. Kurengkuh tubuh Faza, kupeluk erat-erat, isak tertahan kurasakan di dadaku. Kupeluk erat tak ingin kulepas, ingin kuberikan ketenangan buatnya, aku selalu tak tahan melihat wanita menangis. Kuciumi kepalanya, dia membalas pelukanku erat. Kurasakan kepasrahan Faza dalam pelukanku, isaknya makin menjadi, isak bahagia, lega telah mampu menyampaikan apa yang dirasakannya. Masih beberapa saat Faza dalam pelukan, sebelum akhirnya dia melepaskan diri, menyusut ingusnya. Kupegang wajahnya dengan kedua tanganku, kuusap air matanya dengan ibu jariku. Senyumlah sayang, aku ingin membuatmu bahagia, bukan kesedihan yang ingin kuberikan, janjiku dalam hati. Faza tersenyum memegangi tanganku.
“Aku sangat sayang kamu Za….” Kataku penuh perasaan. Faza tak berkata-kata, hanya anggukan kepala. Tapi itu semua sudah cukup menentramkan hatiku.
Aku pulang dengan hati ringan dan bahagia. Ingin aku segera menemui ibu, mengabarkan berita bahagia ini padanya. Aku yakin pasti ibu juga berbahagia mendengar berita ini. Dalam perjalanan pulang aku masih bisa bersandung. Karena hatiku sedang menyanyi, menyanyikan lagu cinta yang selama ini kusimpan dalam hati.

Rabu, 04 Agustus 2010

10. Hadirmu Hapuskan Rindu

Sudah 3 bulan Faza pindah tugas di kantor pusat. Pertemuan terakhir kami di halaman rumah Oomnya saat itu. Pertama kali aku menemukan Faza yang bisa menangis. Walaupun suaranya sering kali kudengar. Sejak saat itu, bisa dipastikan dua atau tiga hari sekali kami berbincang via telepon. Sms tak pernah lupa terkirim tiap harinya, walau hanya sekedar say hallo saja. Jarak yang jauh tak jadi kendala, karena kami tetap bisa berhubungan walau sebatas lewat telepon. Rindu ini sudah membuncah, tapi aku belum bisa memutuskan untuk mengunjunginya di tempat kerjanya yang baru.
Kuhabiskan waktuku sehari-hari dengan menekuni sawah dan kebun. Urusan sawah kuserahkan sepenuhnya pada pakdhe Wongso, aku cukup melihat saja, sesekali membantu mencari air buat mengairi sawah. Kebun dan kios tanggung jawab Jito dan Tihat. Aku mencoba membuat silangan baru, memburu jenis-jenis baru, menambah koleksi anggrek agar tidak mengecewakan pelanggan. Tidak mudah memang, tapi membutuhkan kecermatan.
Siang itu aku sedang sibuk di kebun belakang kios ketika Jito mencariku.
“Mas…ada pembeli tapi kami nggak laku, dia minta dilayani Mas Rahman katanya…!” katanya sambil bersungut-sungut.
“Siapa sih… orang baru?” tanyaku pada Jito sambil bergegas ke depan.
“Mungkin Mas…. dia maunya sama Mas Rahman saja.” sahut Jito sambil mengiringkan aku berjalan.
Sebuah taksi merah berhenti di depan kios. Pengemudinya berdiri di samping pintu. Aku berjalan mendekati. Belum sempat menyapa, pintu belakang terbuka. Sebuah wajah hadir menampakkan senyumnya.
“Faza….” Seruku tak percaya.
Kuhampiri dia kubimbing tangannya keluar dari mobil. Kugenggam tangannya erat-erat. Ingin aku memeluknya memuaskan rinduku, tapi aku hanya bisa terpana. Menatapnya lekat-lekat. Celana jeans, blus putih, jilbab putih, dengan riasan tipis, satu kata mewakili penampilannya, memikat. Justru dalam kesederhanaan tampilannya itulah Faza membuatku terpana. Faza hanya tersenyum.
“Bapak boleh jalan-jalan dulu, nanti dua jam jemput saya lagi ya Pak?” katanya pada pengemudi taksi.
“Baik Bu.” Setelah menjawab sopir taksi itu masuk dan pergi meninggalkan kami.
“Kau singgah hanya sebentar Za?”
“2 jam cukup kan?”
“Terlalu cepat.”
“Mana lebih baik, 2 jam atau tidak sama sekali ?” tanya Faza mengajukan pilihan. Aku tentu akan tetap memilih untuk bertemu, walau hanya sekejap mata, aku mau.
“Mas terlalu rindu.” Faza tak menanggapi hanya tersenyum, mengedarkan pandangannya ke kebun anggrek. Seperti orang yang baru mengenal tempat ini. Tanpa memperhatikan aku sedikitpun.
“Faza nggak kangen Mas?” Kuungkapkan terus terang perasaanku.
“Nggak.” Jawabnya tegas.
“Kalau wanita bilang tidak maka dalam hatinya bilang ya.” ingin aku menggodanya, kata orang, wanita sering menyembunyikan perasaannya. Walau aku tahu, tak mungkin Faza mau singgah kalau dia tidak punya perhatian khusus padaku.
“Heeeee… siapa bilang?”
“Orang-orang tua….?”
“Kakak tu yang bilang, kalau bagi Faza tidak tetap tidak.”
“Lalu kenapa Faza kemari?”
“Mau ketemu ibu.” Ketemu ibu? Nggak salah dengar? Buat apa ketemu ibu? Padahal dia baru sekali ketemu ibu. Kalau buat ketemu putra ibu, itu adalah hal yang wajar.
“Mau ketemu putra ibu?” aku masih ingin menggodanya.
“Bukan! Mau ketemu ibu.”
“Buat apa?”
“Kangen aja sama ibu!”
“Sama ibu apa sama ibu?”
“Ya dah…. Aku pulang aja kalau Kakak nggak percaya.” Merajuk dia. Merasa ku goda. Akupun luluh. Bisa buyar kalau dia sampai marah dan puasa bicara lagi.
“Jangan dong…. Mas yang rindu sama Faza. Mas nggak peduli Faza rindu sama Mas atau tidak. Ok….?”
Kugandeng tangannya menuju kios, Tihat dan Jito masih asyik merawat tanaman di kebun. Udara tidak terlalu panas. Kami duduk berhadapan, sengaja aku ingin pandangi wajah Faza sepuasku. Yang kupandang salah tingkah, jadi gelisah. Tangan kanannya disapukan ke depan wajahku, menghapus pandangan darinya. Dianggapnya aku melamun. Tak kusiakan kesempatan itu, kutangkap tangannya. Dia mencoba mengelak, tapi terlambat karena tanganku sudah menangkapnya. Aku tersenyum penuh kemenangan. Kupegang erat, gemas aku jadinya. Akhirnya dia mengalah. Kuteliti telapak tangannya. Garis-garisnya tegas. Kubolak-balik tangannya yang dingin dan kuraba garis tangannya dengan gaya seorang peramal.
“Bisa ramal pa Kak…?” Faza bertanya sambil tersenyum memperhatikan tingkahku.
”Pinter....” kataku.
”Ah yang bener Kak... garis mana yang sedang Kakak baca?” dia bertanya dengan antusias, duduknya beringsut mendekat, tapi ada meja yang menghalangi kami. Pandangannya pada telapak tangannya yang kupegang.
”Kau tak mudah jatuh cinta, tapi kalau sudah cinta, kau cinta sampai mati....” kataku serius.
”Trus gimana Kak.... apalagi...?” dia semakin penasaran.
”Saat ini kau sedang jatuh cinta.... ”
”Garis mana sih yang menunjukkan itu ?”
”Lihat mataku Za.... !” bagai orang yang terhipnotis dia melakukan apa yang kuminta. Memandangku dengan penuh rasa ingin tahu.
”Ada cinta berkobar dimatamu....” dia tak sadar kalau aku sedang menggodanya, melihat kedalaman telaga di matanya.
“Ah yang bener Kak? Bener Kakak bisa melihatnya?” Siapa yang tidak bisa membaca mata orang yang dicintainya Za? Aku mudah menemukannya, karena aku yang memilikinya. Kilat-kilat dimatamu itu aku yakin adalah milikku. Kau terlalu angkuh buat mengakui. Atau kau hanya mencoba buat menutupinya? Sikap dan perilakumu sudah menunjukkan semua, tanpa kau sadari.
”Apakah kau tak merasakannya?”
”Ada sih.....” jawabnya tersipu. Ayo Za, mengakulah kalau kau juga punya cinta untukku, bisikku dalam hati.
“Tanganmu dingin… sering begini ya…?”
”Dingin Kak? Masak sih...?”
”Tangan orang yang sedang dibakar api cinta...”
”Ah Kakak lama-lama ngelantur nggak jelas...”
“He…. Panggil aku Mas….. ingat?”
“Gak ah… aneh…”
“Ya udah, tangan ini gak kan kulepaskan…!”
“Nggak pa pa…”
“Hee …seneng ya kupegang…?”
“Lho yang pegang kan bukan aku, tapi Kakak….”
“Za…”
“Apaan sih….?”
“Mas seneng bisa pegang tangan Faza…. Bisa salurkan hawa hangat.”
“Ya udah…. Pegang aja terus….”
“Benar nih…. Ikhlas….?”
“Bener…. Ikhlas….!”
“Kapan Mas bisa pegang tangan ini tanpa pernah melepasnya lagi….?”
“Lho katanya mau dipegang terus….”
“Kapan….?”
“Yach…. Terserah Kakak….”
“Jadi Faza sudah siap sekarang?”
“Siap apa?”
“Siap nikah?”
“Ahhh….. Aku belum ingin menikah sekarang Kak…. Masih banyak yang belum teraih…. “
“Lho tadi Faza bilang Mas boleh pegang tangan Faza terus tanpa melepasnya, berarti Faza nggak boleh jauh-jauh dari Mas dong….!”
“Faza kan masih disini…. Nggak jauh dari Mas…. Faza juga nggak mau lepaskan tangan Faza ini kalau Mas belum melepasnya….”
“Kau terlalu pandai Za…. Terlalu pandai mengalihkan perbincangan.” gemas aku dibuatnya dengan jawaban-jawabannya yang diplomatis.
“Nggak koq Mas…. apa adanya aja… aku nggak mau terlalu mengada-ada….”
Kuciumi tangan Faza. Rasa haru tiba-tiba menyeruak, hasrat yang menggebu amat terasa, rasa rindu ingin segera menikah dengan Faza tak terbendung. Kugenggam dengan kedua tanganku, kucium, mataku terpejam tak mampu menatap Faza lebih jauh, meredam gelora rasa yang menggebu tak tertahankan. Meredakan degub jantung yang bertalu. Bukan mereda, bahkan membuatku makin tersiksa, ya rasa tersiksa yang nikmat. Masih terasa telapak tangan Faza yang dingin, tak mampu kualirkan kehangatan padanya. Desir nadinya saja yang mengalir kian cepat dalam genggamanku. Aku tak mampu terjemahkan apa yang terjadi. Apa sebenarnya yang kami inginkan, aku dan Faza. Yang ada hanya diam, beku. Di sela degub jantung yang keras dan nadi yang mengalir deras. Sunyi, tapi semua penuh makna, sarat gejolak jiwa, tanpa kata, karena lidah jadi kelu.
Aku tersadar karena Faza mengeratkan pegangannya, menyelusupkan jari-jari tangannya diantara jari jemariku. Ada rindu yang terasa. Biarlah tak ada kata yang terucap, biarkan jari jemari ini saling bercerita, tentang rindu dan cinta yang ada di hati pemiliknya. Biarlah jari jemari ini saling berpaut, mengguratkan nada dan irama agar jadi serenade.
Ketika aku membuka mata, melihat wajah Faza yang pias, hadirkan luka menyayat. Mengapa setiap kali kami beradu rasa, aku harus melihat butiran bening mengalir di pipinya. Air mata bahagiakah itu? Atau justru sebuah luka menganga? Kuulurkan tangan menyentuh pipi yang basah, sebuah sentuhan penuh rasa, meghapus air mata yang belum sempat turun semuanya. Berangsur wajah Faza merona. Kuangkat dagunya, aku ingin melihat apa yang sebenarnya ada di matanya yang bulat jernih. Kucari cinta di matanya, kucari binar-binar bahagia yang hadir kala itu. Tapi mata itu tak juga terbuka, justru butiran bening itu makin banyak mengalir. Faza membiarkannya jatuh. Aku telah melukainya. Maafkan aku Za. Kueratkan peganganku.
“Za….maafkan Mas ya…”
Mata Faza terbuka, bulat jernih, tapi kali ini tersaput air mata. Dia mencoba tersenyum.
“Mas tidak berniat membuatmu terluka.”
Kulihat sinar bening di matanya yang bulat. Binar itu terlihat lagi dimatanya. Menyilaukan. Faza hanya menggelengkan kepala. Lalu kami terdiam cukup lama, bicara dengan hati masing-masing. Pikiran kami mengembara, entah ke negri asing yang mana.
“Nggak koq Mas, tak ada yang perlu dimaafkan, Faza terharu saja. Melihat Mas memperlakukan Faza bak putri impian. Faza tak bisa menahan diri.” Tiba-tiba Faza bicara lirih. Dia mengambil tissue dari dalam tas, menyusut hidungnya dan mengusap pipinya dengan hati-hati.
“Faza memang putri impian di hati Mas. tak sabar rasanya Mas harus menunggu terlalu lama. Namun sesuai janji, Mas akan tunggu sampai kapanpun, sampai Faza siap.” Kataku penuh percaya diri.
“Faza percaya Mas, Mas sabar saja Faza pasti memberi tahu kalau Faza sudah siap.”
Dia berkata sambil tersenyum. Senyum yang riang, begitu mudahnya dia berubah, semula sendu berurai air mata, dalam sekejap dia sudah bisa mengendikan dirinya seperti tak terjadi apa-apa. Hanya matanya yang tidak bisa menipu, bila dia baru saja berurai air mata.
“Boleh bertemu ibu Mas?”
“Faza nggak minum dulu? Mau apa? Air putih atau teh botol?”
“Nggak usahlah Mas, aku mau ketemu ibu saja, nggak enakkan kalau nggak menemui ibu?”
“Kalau ibu tahu Faza kemari, pasti ibu menanyakan, Mana Man calon menantu ibu yang cantik itu….?” Sahutku menggoda. Kami berjalan bersisihan di kebun anggrek.
“Huuuuu….. perayu…” tangannya meluncur mencubit pinggangku, kali ini kubiarkan tangan itu bebas melakukannya.
“Lho, harus dengan apa kubuktikan…?” aku berbalik, berdiri di depan Faza memegangi bahunya.
“Dengan apa ya?” katanya sambil memejamkan matanya telunjuknya menempel di pelipis. Kutempelkan kedua jariku dibibirnya. Faza mendesah dan membuka matanya.
“Mas….” katanya sedikit membentak. Keluar galaknya dia.
“Suit….suit….suit….” Tihat dari kejauhan bersiul melihat tingkah kami. Jito tertawa-tawa.
“Nah tu….jadi bahan tertawaan kan…!”
“Biar saja… paling-paling mereka iri…!”
“Jahat!”
“Jangan marah dong, Mas jadi gundah gulana.”
“Biar aja. Biar terasa.”
“Terasa apa?”
“Terasaaaaaa…… rindunya… ha…. ha…. ha…. ha….” Katanya sambil berlari menuju rumah meninggalkanku yang terpesona melihat tingkahnya.
Faza yang kuhadapi kali ini adalah Faza yang sungguh berbeda. Faza yang riang penuh canda, bukan lagi Faza yang jaim dan sedikit angkuh. Inikah Faza yang sebenarnya?
Dari jauh kulihat Faza yang sudah berpelukan dengan ibu, seolah anak yang baru kembali ke pangkuan ibunya. Terlihat wajah ibu yang bahagia menggandeng Faza masuk ke ruang dalam. Semula ingin mengikuti Faza dan ibu, tapi akhirnya kubiarkan saja mereka saling melepas rindu. Biar mereka puas menyampaikan perasaannya masing-masing. Semoga ini menjadi angin baik hubungan kami. Karena aku tidak ingin menikah hanya untuk diriku sendiri tapi juga untuk ibu dan keluarga besarku.
Aku kembali ke kebun belakang kios, membenahi beberapa alat yang tercecer saat kutinggalkan tadi. Melihat bibit-bibit yang baru dipindahkan ke pot-pot yang lebih besar membangkitkan semangat untuk berbuat. Bibit-bibit itu akan tumbuh menjadi besar, kemudian berbunga menampilkan kecantikkannya. Aku yakin, benih-benih yang ada dalam hati kamipun demikian, bila dipupuk, disirami, maka benih itu pasti akan tumbuh menjadi lebih besar dan subur.